Assalamualaikum,,
Pertama kali, aku akan mengisi Blog ini dengan kenangan indahku ketika masih kecil. Aku dari masih kecil hingga sekarang tinggal di salah satu dari bejibun perumahan di kawasan perbatasan solo-Sukoharjo.
Dulu perumahan yang ada di sana masih sedikit, yang ada hanya sawah dan sungai. Saat itu ketika musim hujan tiba, kerap terdengar lantunan-lantunan katak yang sangat merdu. Hingga pagi tiba, kami dan teman-teman pergi ke sawah mencari katak sebagai umpan untuk memancing ular. Saat ada ular yang memakan katak umpan kami, kami jadikan ular itu mainan.
Kami biasa bermain lumpur, kadang-kadang lumpur itu kami jadikan sepatu mainan yang melekat di kaki, kadang kami jadikan bentuk sedemikian rupa sehingga menjadi barang barang unik, menyusuri sawah seakan-akan akulah rajanya, dan memancing ikan di sungai yang berkoloid dengan lumpur. Ketika tidak punya uang, kami memburu cecak untuk dijual kepada tetangga yang mempunyai ikan piranha.
Saat malam menjelang, kami terpesona dengan bintang-bintang yang beterbangan mendekat. Kami langsung keluar rumah membawa plastik transparan langsung saja kami tangkap bintang-bintang itu untuk dijadikan lentera. Kami biasa menyebut bintang-bintang itu dengan kunang-kunang.
Ketika musim panen tiba, kami membangun benteng yang terbuat dari jerami padi, lalu kami bermain perang-perangan bersenjatakan ketapel sederhana yang berpeluru buah kersen yang belum masak. Kami berpetualang menyusuri sungai yang di belakang perumahan bak seorang tentara. Ketika stok perbekalan habis, kami mengendap-endap menuju ke salahsatu ladang, menggerus-gerus tanah mencari harta karun yang berupa ketela rambat, pencarian harta karun harus dengan kehati-hatian yang sangat tinggi, sedikit saja di ketahui musuh (empunya ladang) kami harus bisa melarikan diri sejauh mungkin. Ketika sudah dirasa aman, kami mengeluarkan korek api, dedaunan, dan jerami untuk membakar ketela tersebut sebagai makan siang.
Kami melanjukan perjalanan hingga menemukan hutan glukosa, tanpa ada komando kami langung mengeksploitasi isi hutan. Tak disangka, rakasa penunggu hutan marah, ia bersenjatakan parang, ia berteriak “Le.. Tebune aja di rusak, tak antemi koe!! (Hei bocah, Tebunya jangan dirusak, tak pukuli kamu!!)”. konan saja pasukan berlari kocar-kacir berpencar ke segala arah. Aku bersembunyi di sela-sela padi Gogo yang belum panen, kebetulan padi itu batangnya sangat tinggi sehingga aku yang betubuh kecil mudah saja bersembunyi.
Saat perjalanan pulang menuju markas, kami menyempatkan menyandra salah satu bola hijau milik petani semangka untuk dijadikan makan penutup sebelum pulang.
Sesampainya di markas, kami mendapati markas luluh lantak diombang-ambing oleh angin. Markas yang kami buat dengan susah payah cuma berumur satu hari. Akhirnya kami malas membangunnya lagi. Lagipula hari sudah hampir malam, saatnya mandi karena badan sudah gatal-gatal semua.
Kejadian itu terjadi sepuluh tahun yang lalu, sekarang disana sudah tidak lagi ditemukan lantunan katak saat musim hujan, lumpur-lumpur menjadi kering dengan adanya aspal, sawah-sawah ditumbuhi dengan perumahan, air sungai sudah terkontaminasi dengan limbah rumah tangga. Kunang-kunangpun juga ikut lari melihat tingkah laku manusia yang mengusik rumahnya.
Aku berpendapat pembangunan perumahan di kawasan tersebut sangatlah tidak efisien, banyak developer merubah sawah dengan perumahan, padahal masih banyak perumahan yang sedikit penghuni, menurutku kawasan perbatasan Solo-Sukoharjo dipending dulu dalam pembangunan perumahan hingga perumahan perumahan yang ada terisi penuh dulu. Supaya lahan yang belum dibangun dapat dimanfaatkan secara produktif.
Tags: kecil